Re: Sebagai orang Islam kita tidak meyakini reinkarnasi?

Kita sebagai orang Islam harusnya lebih terbuka dan mau mempelajari agama kita sendiri dengan hati yang suci tanpa prasangka buruk kepada agama lain. Bukankah sebelum membaca al-Quran kita diwajibkan bersuci dulu? Maksudnya di sini bukan sekadar berwudhu, tapi mensucikan hati dan pikiran kita dari prasangka-prasangka buruk.

Apa yang anda katakan benar, kita harus mensucikan hati dan pikiran kita dengan berwudhu sebelum membaca Al-Qur'an.

Artikel tentang reinkarnasi di atas bukanlah berprasangka buruk kepada agama lain. Si penjawab hanya memberikan keterangan bahwa tidak ada konsep reinkarnasi dalam Islam. Si penjawab tentu menyadari bahwa untukmu agamamu dan untukku agamaku sehingga dia hanya menjelaskan pengetahuan dia tentang agama dia sendiri, dengan tidak bermaksud menyinggung keyakinan agama lain.

Mengenai beberapa ayat Qur'an yang anda sertakan untuk mendukung teori bahwa Islam mengenal reinkarnasi, kita tidak bisa menafsirkannya secara sepihak. Bagi kita yang awam dengan Al-Qur'an tentu harus merujuk kepada kitab-kitab tafsir muktabar seperti tafsir Thabari, tafsir Ibnu Katsir, tafsir Jalalayn, tafsir Munir dll.

Salah satu contohnya adalah untuk Al-Baqarah ayat 28, menurut tafsir Thabari ayat tersebut untuk menunjukkan dua kematian yang dialami manusia yaitu, kematian pertama ketika manusia masih berbentuk nutfah dalam tulang belakang ayahnya. Kematian kedua, ketika nyawa manusia dicabut dari kehidupan dunia ini. Dua kehidupan dita'wilkan sebagai kehidupan di dunia, dan di akhirat kelak. Pendapat ini dikutip dari ahli tafsir pada masa sahabat, yaitu Ibnu Abbas dan Ibnu Mas'ud.

Untuk tambahannya untuk tafsir (penjelasan) Al-Baqarah ayat 28:

Sekali lagi Allah mempertanyakan bagaimana mereka tetap menjadi kafir, padahal telah nyta bukti-bukti yang Allah berikan. Allah lah yang menciptakan (al-Khaliq). Kata kaifa pada ayat ini adalah harf istifham li at-taubikh wa al-inkar, atau menurut az-Zamakhsyari al-inkar wa al-ta’ajjub, sehingga dapat dimaknai dengan “bagaimana mungkin” atau “bagaimana bisa kalian kafir”. Allah mengharapkan mereka, kita semua dan siapa pun juga dapat menyadari diri sendiri.
Padahal kita berawal dari ketiadaan (‘adam) kemudian Allah mengadakan kita dari ketiadaan itu dengan perantara kedua orang tua kita. Hingga kita hadir, tumbuh dan berkembang di dunia ini. Dan pada akhirnya kita akan kembali tiada melalui pintu kematian. Kemudian setelah kematian itu, kita akan kembali dihidupkan (dibangkitkan) untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita di dunia.

Namun jika seandainya ada dari kita umat Muslim yang menafsirkan lain dan mengaitkan ayat-ayat yang anda sebutkan tadi dengan konsep reinkarnasi maka akan lain lagi ceritanya.

Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa Islam mengajarkan kita untuk menghormati keyakinan agama lain seperti pesan dari surat Al-Kaafirun.

Wassalam

Reply

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
If you have a Gravatar account, used to display your avatar.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

This blog uses the CommentLuv Drupal plugin which will try and parse your sites feed and display a link to your last post, please be patient while it tries to find it for you.
CAPTCHA
Jawab pertanyaan ini untuk membedakan apakah anda pengunjung atau spam.
1 + 4 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.